Kamis, 21 Mei 2009

Today's Boys Tomorrow's Gays ehhh Leaders?!


Yeah we *boys* blame you giant capitalist retailers for teaching us 'these stuff' since we were very little

Selasa, 19 Mei 2009

Heartbreak Hotel

went to hotel indonesia - kempinski today. They showed us slides of how this hotel looked like back then and bla bla about how posh their 512 m2 wide presidential suite is, how theyve got 10 hangout places and stuff i don't care. didnt really listen because i just wanna take a tour immediately, to see how things have changed in this legendary hotel.


the hotel HAS changed. sadly. the first restaurant they brought us in is an ITALIAN restaurant. In front of the Casa D'oro restaurant staff welcomed us in italian. Does this is what you're looking for in a hotel named Indonesia, an italian restaurant? It seems kempinski people thinks it is. Probably they have built a hotel somewhere in France that featured an Indonesian restaurant as their main restaurant. Maybe this is what thinking side ways means in Kempinski school of hotelier.



The restaurant is full of cute chairs, actually cute chairs are all over this hotel, but again, none of them reflects indonesian culture.

far from what i expect, the room theyve been bragging about is horror to my eyes. yes, the one they say as a special room with bullet-proof window. oh my god. "the new order" marbles, the dull elevator area, the terrible work on the wallpaper along the hall, and oh, even their choice of carpet disgust me. the pr who talk nonsense, all the way from ground floor till 8th floor said the interior designer is a malaysian. well, that sort of explain why this is all going on here, no?

and then I went to the presidential room and learned that the hotel have a view direct to bunderan HI. and you know where else can you get this view? from the bath tub and your mini bar. as i see some people gathered to demonstrate at bunderan HI, from the bath tub, i thought this spot can actually be useful for exhibitionist for dummies program.



basically, there are so little spot where you can take a picture and without explaining so much people can tell you that youre in indonesia. or at least make sense of it. what this hotel has is a hybrid identity, that takes a bit of here and there, to be globally fucking trendy.

Fortunately some old stuff remained. like this beautiful sculpture...


or this one... which if im not mistaken used to be near the swimming pool area back in the days



and my favorite. a small spot in the hotel that puts a beautiful black n white pictures in frames. one of them is a photo of a bule, the person they say is hotel indonesia's first costumer, sitting in a becak, cramped besides his luggage. o god, did you remember the better days when becak can still go around HI?



anyways, among the crap i see in the hotel, this one picture kind of ease me. but i still hate the hotel. and if a name matters so much, i think Darmawangsa hotel deserved to carry the Hotel Indonesia as its name. unlike this fusion (or confusion?) type of interior hotel.

i wonder what would bung karno say about this hotel when he's still alive.
i hope he hates the marbles too.

money...money..money.

Woi adam,

kemana aja? Kok ga pernah telpon gue lagi?? gue lagi butuh saran nih. Kemaren pas gue lagi liputan seni (seperti biasa) yang lumayan membosankan (seperti biasa juga) itu gue dapat press kit (lagi-lagi seperti biasa). Nah, pas gue balik kantor, dan gue bongkar-bongkar isi press kit itu, ternyata didalamnya ada amplop berisi duit 500ribu! Yang *menurut gue* akhirnya menjelaskan kenapa di pameran seniman yang belum terlalu ngetop itu terdapat banyak wartawan harian, majalah mingguan, dan bulanan pada nongkrong lama-lama di acara yang cukup gajebo itu...
nah, kembali ke masalahnya, menurut lo gue mesti apain nih duit? seharusnya *berdasarkan etis dan hati nurani* gue balikin langsung saat itu juga, tapi sayangnya, gue ga liat isinya pas di acara itu. Sekarang, udah gue bawa balik ke kantor. Kalo gue balikin hari ini, nanti dipikirnya: mentang-mentang 'cuma' 500ribu malah dibalikin... gitu loh...gimana yah??

Help!
Steve

Sabtu, 16 Mei 2009

'kerasnya' kehidupan majalah

Dear Adam,
check the picture out, I thought my magazine is the only company that doesn't pay attention to its employees.. *doesn't mean I'm satisfied with my salary, Mr.Boss*

cheers,
steve

Kamis, 07 Mei 2009

Chin uuppp.... chin dowwnn.. now kiss my toe

Gue selalu nggak habis pikir sama fashion stylist (mungkin di kantor ini, tapi pas gue banding-bandingin di majalah yang lain juga mereka kayak gini). Karena fotografer di kantor ini cuma dua ekor, sementara majalah tebelnya 200 halaman, dan waktu kita ngerjain majalah bulanan ini sebenarnya cuma 2 minggu, bagian bikin janji sama fotografer selalu bikin gue deg-degan. Sering banget kejadian soalnya kalo gue lagi mau pake fotografer, narasumber gak bisa, tapi fotografer bisa lagi hari-hari gaji buta. Atau yang lebih nyebelin. Narasumber gue udah bisa, tapi fotografer dipake sama orang lain.

Emang ada aja sih yang bisa lo ajak kompromi kalau soal rebutan fotografer, kecuali lo tabrakan jadwal sama fashion stylist. Makhluk ini biasanya mengalahkan segalanya. Dan dapet persetujuan dari bu boss. Selalu. Kayak kemarin waktu gue mau motret Ani SBY. Yang kayak gini aja gue harus ngalah sama dia.

Udah gitu, sempat-sempatnya, si panjul, fashion stylist kantor gue bilang “Mendingan hari lain aja deh, nek.. biar lo juga jadi lebih enak. Sekalian mungkin lo bisa minta si ibu ani itu ke kantor, foto aja di studio kita (yang kayak kandang ayam ini maksud lo?). Gile ye, dia pikir ibu ani yang mau gue potret itu ibu-ibu tukang jual pecel lele kali, mau gue suruh2 ke sini buat motret.

Jadi sementara gue memburu-buru si ibu Ani kemarin di tengah para fotografer news yang ambisius itu dengan kamera seadanya, gue membayangkan di codot panjul yang pasti lagi asik-asik di hotel butik terpencil ubud yang udah terima beres karena semuanya udah dikerjain sama marni, asistennya. kebayang si panjul lagi mengarahkan para model dengan kompilasi contekan fashion pages dari vogue atau elle yang dikasih ke fotografer kayak anak kecil lagi minta sepatu baru “Nih, aku maunya yang kayak gini. Terus untuk baju yang itu, aku mau yang kayak gini.”

Tentu dengan cerocos mantra defaultnya: “chin upp.... chin doowwnnn... a bit down... loook farrr...far morre... matanya diisi... lagi.. lagi... ok, nice.”

Oh it's that time again ... Rempong Gone Wild

kenapa ya gosip ato bahan bincangan yang seru tuh selalu muncul pas makan siang? kemarin gue makan siang lagi dengan temen-temen yang biasa, termasuk si Joey-fashion reporter majalah gue yang gue ceritain dulu2 itu.

nah, cerita mundur sebentar ya biar agak nyambung sama yang sekarang (not to underestimate ur over-sized brain). gue perhatiin ya tiap majalah udah mo garis-mati alias deadline nih dia selalu ngeluh kerjaannya kebanyakan. keluhannya nih selalu kayak gini:

"duh..gimana dong.. kerjaan gue numpuk banget! si Mas *&*&$ (salah satu bos kite) emang ga pake otak deh. gue mesti pemotretan ini lah.. itu lah.. belum lagi minjem barang ke sini.. ke sana" (padahal ya semua fashion stylist di majalah gue ga ada yang pake anak magang dan smuanya ga ada yang ngeluhnya panjang x lebar x tinggi kaya dia)

bayangin ga sih lu kira-kira seminggu dalam tiap bulan gue harus mendengarkan: "gila..gila...gila...gimana nih, put. (emang mana gue puput) tulisan gue yang
ini belum kelar lagi..mana masih harus meeting untuk pemotretan itu.."

dilengkapi dengan gaya rempong dan remix karna dia senengnya sama cowo juga "trus yah, udah gitu gue masih ada tulisan feature lagi! gila ga?! gimana caranya mo gue kelarin coba! harusnya kalo gue fashion ya udah fashion aja ga usah ditambah2in dari yang lain-lain."

kadang-kadang gue berpikir dia nih lagi ngeluh ato lagi pamerin jadwalnya yang super padat ya? secara gue terlihat lebih santai dan lebih "ga ada kerjaan."

Dengerin curhat colongan dia dan selalu didramatisir dan (gue yakin banget) dilebai-lebaikan ditambah bumbu boong-boong dikit sana-sini biar gue ikut kasian dan "ngebelain" dia.. selalu berhasil...sigh... gue jadi sering nawarin bantuan untuk bawain barang-barang pemotretannya keluar masuk mal.

trus kalo lagi di mal ni orang-orang pada ngeliatin kita karena (menurut gue):
- kirain kita gay (atau orang GAI kalo kata mas-mas, dan
- (most likely) he's LOUD

TAPI, makan siang kemaren mengubah pandangan gue (cieehh gaya lo..) gue pas
makan sama dia dan mas *&*&$ dia ngomong gini:

"mas *&*&$ lu ada kerjaan feature apa ga yang menarik? gue mo ikutan dong! kaya edisi april kemaren itu loh..."

*silakan, waktu dan tempat untuk mencaci-maki dipersilahkan*

rasanya pengen gue muntahin makanan gue ke mukanya. mulai saat ini, GA ADA lagi SIMPATI-SIMPATIan dan BANTU-BANTUan

rgrds,
steve "puput"

Senin, 04 Mei 2009

Judul hits yang lebih lifestyle

ahoy steve,
Gue nggak bisa komentar lagi tentang Manohara. Capek ah, bosen gitu2 mulu. Tapi gue jadi inget, kalo artikel manohara lo dibaca petinggi2 kampret di kantor gue dulu, lo pasti bakal dihadiahi komentar cinta alias sopannya, kritik membangun.

soalnya waktu gue jadi reporter dulu gue pernah banget nih dapet masalah soal judul. bukannya gue nggak bisa kasih judul yang lain, tapi gue lagi mau cari gara2 aja, supaya editor ada kerjaannya. soalnya gue lihat2 kampret2 itu kayak udah yakin aja semua yang kita tulis mulus2 aja, jadi tinggal baca terus lempar ke artistik sambil asik2 makan siang sampe jam 3 sementara kita kerjanya di kejar2 mulu.

tau dong lo, mantra yang sama itu kan dipake juga sama insan permajalahan di sini “Dikejer ya, dikejer.. udah tanggal berapa nih, udah mau deadline. Ayo semuanya dikejer!!!” yang membuat gue berasa kayak anjing balap yang lagi disuruh ngejar hadiah...

balik lagi soal editor-editor malas itu... cara ngebilanginnya ada macem2... tergantung lo kena sama siapa.

Ada editor berperawakan halus yang saking halusnya nggak mau nyinggung perasaan orang, orang jadi nggak nangkep maksudnya. misalnya...

“hmm... Steve? sibuk? “ (sok sopan dulu, namanya juga kantor penuh betina, maka sikap juga harus betina tulen (kalo gak, perilaku lo bakal dijadiin menu utama saat bergosip cum makan siang)
padahal kita semua sudah tau kalau ada orang ngomong kayak gini mah sebenarnya dia cuma pengen bilang “Woi, steve, sini dong bentar!”

lalu lo diminta untuk membaca pikirannya ketika dia menyampaikan preambulenya.
“Steve... begini.... ini... artikel kamu.... judulnya .... ini....hmm.. gimana ya...“
(kalau boleh rasanya lo bisa bikin kopi dulu atau cek-cek email dulu buat nungguin dia menyelesaikan kalimatnya. yang tipe gini berharap lo sudah ngerti dia mau ngomong apa sehingga dia nggak harus ngomong semuanya, dan akhirnya, ngga usah menyakiti hati lo)

“Pas tadi saya baca... saya pikir... bisa nggak ya... judulnya dibuat...emm.... lebih gimana lagi, gitu..” (Jadi lebih gimana? jadi lebih GIMANA??? katanya penulis... ngerti kaidah berbahasa yang baik. tau yang bener itu risiko bukan resiko... di situ bukan disitu.. ini apaan? apaan itu artinya “lebih gimana???”)

biasanya kalo lo nggak nangkep juga, dia tetep akan maksain teknik “Bagaimana menyampaikan pesan tanpa harus mengatakan apa sebenarnya yang Anda ingin sampaikan”. “Ya gitu-gitu deh... tau lah kamu.... yang ini tuh judulnya... hmmm.. gimana ya... kurang apa gitu....” sambil memejamkan mata sambil senyum dikulum kayak lagi gemes sendiri sama bayi.

“Coba, deh... lebih dibikin... lebih... gimanaa gitu. Pokoknya bikin yang lebih hits.”

lebih hits... muka lu sini gue hits

Nah, lain hal kalo lo ketemu editor tipe tegas, gak pake omong kosong, yang langsung pada intinya. Kalimat biasanya ditambah dengan bumbu motivasi yang didapat dari kelas workshop mario teguh, kalau sepertinya dia percaya pada kemampuan lo padahal sih emang cuma supaya lo nggak ngomong balik aja. tapi tetep ada tolol2nya juga, emang satu kantor di sini kan pada longgar semua sekrup kepalanya. bunyinya kurang lebih begini:

“Steve, bisa ke sini sebentar?” suara tegas, kepala ditonggolin dikit dari ruangannya (dikit aja, kan sibuk berat jadi nggak ada waktu untuk lama2 keluar dari kandangnya. Banyak temen fb yang harus diconfirm soalnya.)

“Begini, artikel kamu ini. Coba cari lagi judul yang lebih bunyi. Ini kayak tabloid banget. Cari yang playful, tapi pintar... smart gitu.. tapi catchy, ngejual. kita kan majalah fashion, jadi pengungkapan kita harus lebih lifestyle. kalo gini gak lifestyle.”

wtf? “Kita kan majalah fashion, jadi pengungkapan kita harus lebih lifestyle. kalo gini gak lifestyle.” ?? the sentence doesn't even make any fucking sense!

tapi tentunya lo nggak pernah akan sempat ngomong itu ke dia. karena seperti petasan mercon yang menjalar cepat, kalimat setelahnya sudah merongrong untuk muncrat.

“Ok? Ya? Coba cari dulu. Saya tunggu. Saya yakin kamu bisa. Kamu pasti bisa. Jangan cepat bilang nggak bisa dulu. Saya bisa rasakan kamu akan jadi penulis besar. Ok? Tutup pintunya pas keluar ya.”

opini terstruktur dari atasan

hey Adam,
gimana kabar lo? masih menikmati indahnya sunset Tunisia??
anyway, gue ada cerita nih.. minggu lalu, gue sama beberapa temen kantor makan siang bareng di warung deket kantor. nah tiba-tiba cowo yang duduk di depan cubicle gue nelpon dan pengen ikutan makan siang. padahal nih ya, hampir setahun kita kerja bareng, ga pernah tuh ada cerita makan bareng. singkat cerita, datenglah dia nyusul dan langsung duduk tanpa dipersilahkan.

pas sambil makan, kita ngobrol dong mulai dari yang ringan-ringan karna ada 'orang baru' nih di kelompok makan siang. eeehhh ternyata obrolan ringan pun berganti ke debat panas didukung suasana warung yang panas dan minuman teh manis anget gue..mantap dehhh.. sebagai penulis nih, dia beranggapan kalo orang Indonesia tuh ga suka baca yang berat-berat..maunya yang ringan aja. ga mau berpikir terlalu susah. Man, gue pikir selama ini kejelekannya dia tuh hanya terletak pada kegaringannya yang lebih crunchy dari ayam KFC itu..ternyata... pantesan isi majalah gue gitu-gitu aja yak. orang penulisnya kayak gitu!

langsung dong ditantang sama temen gue: emangnya lo tau darimana orang Indonesia cuma suka bacaan ringan? buktinya gue ngga tuh... trus, mana bukti statistiknya? buktinya majalah %^%& laku-laku aja tuh..
sambil sok cuek dengan ngunyah ayam gorengnya dia jawab gini: hehe maksud gue kebanyakan....
duhhhh HELP!

nah setelah itu, gue pikir selesai dong ya sampai disitu...untung cuma 1 orang yang kayak gitu di kantor gue (yang ketahuan)

baru-baru ini gue masukin artikel gue ke bos tentang pameran kerajinan Indonesia baru-baru ini. ga lama setelah gue kirim emailnya, gue langsung dipanggil ke ruangannya untuk direview (membuat gue bertanya-tanya dia baca ga sih tulisannya) trus dia ngomong gini:
"Putra sini sebentar..." (gue juga ga tau kenapa orang ga mo manggil gue dengan nama depan gue aja..padahal pu-tra lebih panjang dibanding steve)
"iya mas, ada apa ya?"
"ini nih gimana ya tulisan kamu.. saya sih suka isinya. tapi judulnya ini loh yang harus diganti. Judulnya tuh 'keberatan'. Pembaca kita tuh sukanya yang lebih ringan! hidup sendiri ini udah susah, jadi jangan ditambah susah dengan memberatkan mereka baca majalah kita."
(sambil mikir: aha! ini dia nih sumbernya..pemikiran dan opini terstruktur dari atasan yang diturunkan ke bawahan, dan bawahan ngangguk-ngangguk aja biar posisinya'aman') gue jawab: "masa sih mas, ya udah nanti biar coba saya eksplor pilihan judul yang lain" (kalo jawab kudu pake bahasa yang agak keren dikit biar kedengaran serius dan berkelas)

apakah majalah setebal ratusan halaman dan beratnya kurang lebih 2 kilo itu bisa dibilang bacaan ringan? tas tangan cewek-cewek aja udah berat mas, gimana ditambah majalah kita?

need a person to share this pain with,
steve

Sabtu, 02 Mei 2009

Manohara oh Manohara

Hi Adam,

kebiasaan bangun pagi sepanjang minggu bikin gue bangun cepat jg sabtu pagi. Dan..tadi pagi nih gue nonton infotainment yg itu loh yg kalo presenternya ngomong suka dilebih2in, sok didramatisir, dan ditambah dengan
backsound yg mendukung suasana biar lebih tegang... Seluruh acaranya didedikasiin buat Manohara Pinot..again n again... Kayaknya berita ini udah semingguan lebih nih ga habis-habis...sampe ngalahin berita tentang konflik militer di Sentani, Papua nih.. tapi, lama-lama gue nonton udah mulai kasian juga nih sama si Manohara. Ibunya usaha kesana kemari nyari2 pertolongan walopun kadang ke tempat ato orang-orang yang kayanya agak kurang nyambung gitu ya (mabes polri contohnya). ada juga tokoh agama. nah, pas disitu, maminya ngomong gini: Manohara tuh harus ditolong pak, dia itu termasuk aset negara loh. dia itu anaknya pinter banget................
gue ganti stasiun tv nya karna ga tahan denger kebohongan selanjutnya.
Manohara dulu ranking berapa ya pas sekolah sampe bisa disebut aset negara? (maklum, kebiasaan disini kan orang-orang kepintarannya diukur lewat ranking di sekolah. ga peduli gimana caranya dia dapet angka 7 ato 9 itu di rapor)

Jumat, 01 Mei 2009

CK-ckckck

Hi A,

wow wat a boss you have! what a very creative title... Tunisia Indah...really inspiring, makes me wanna go there... I bet they have a really nice bed n breakfast package with a pretty good ol' 17 inch tv and a vintage looking water heater..sorry is this Tunisia country u're talking about? 'coz it sounds like the name of an inn
From your review, I can tell the book u're reading is disastrous (pardon any mis-spell) butttt, made me wanna readddddd it! sigh (i'm starting to question my taste..first the reality show, now this book)
anyway, the day went by very slow this morning and to kill time I copied my ID n NPWP only to have a reason to get up of my chair n looked busy. (I'm starting to gain fat here n there – see pic...my defense is: it's ok to gain weight but still look good! :D)
Last night I went to the Calvin Klein show and there was oh-so-cute-but-not-so-tall Mike Lewis. But he's not the one I want to tell u about. There was this lady carrying a recycled bag! Among all the capitalist-rich-affair addict-mistresses and aggressive-social climbers, there was one sane lady, (well 2 of us I mean...err 3 with my photographer)! It was a bag made of detergents' and soaps' used containers, n she carried it proudly with no evidence of trying to hide it! Tsktsktsk 4 thumbs up. Maybe your dear alexandra dewi can make her as an example for her upcoming book? I heard there's a new fashion and shopping book coming out called “The Little Pink Book of Fashion”. Run for your life, people!!!

cheers,
Steve

tunisia panic attack


oi steve,

pagi ini bu bos kena panic attack. biasalah kemarin abis rapat sama bos cong. pagi-pagi gue masih ngos-ngosan abis naik tangga, minum juga belum, mukanya langsung ditempatkan di depan muka gue. dia bilang "ini gimana ya, pak cong kemarin bilang artikel yang ini judulnya kurang bunyi. gimana, ya? gimana ya?" mukanya berkerut sambil naik turun kayak di dengkulnya ada per.

"yang mana mba?"

"yang ini"
disodorinlah ke gue proof print artikel yang dibuat sama seorang kontributor, yang adalah temannya dia. seorang model yang namanya sudah meredup dan sekarang mau merintis nama di dunia penulisan. artikelnya... apalagi kalau bukan travelling....

ini artikel emang nggak cuma judulnya yang nggak "bunyi" semua tulisannya juga mirip2 baca brosur smiling tour atau smailing tur, ya namanya sekarang?

"hmmm.. gimana ya mbak?" gue bilang sambil pura2 baca2 proof print yang ada di tangan gue

"Iya, gimana ya?" sambil kasih muka kayak mau nangis dan mukanya dekat banget sama muka gue. (hmmmm... mungkin mundur sedikit dulu mbak, biar gue bisa lebih gampang bacanya?)

"Agak susah ya, mbak"

"Iya, ya agak susah?"

trus aje, ikutin gue ngomong apa. gini nih penyakitnya kalo panic attack, dia kayaknya udah nggak bisa mikir lagi.

"hmm... kalo gini aja gimana, mbak? gue pura2 mendapat ilham untuk memberikan harapan

"gimana gimana?" cepet banget nyautnya.dia tuh bener2 ngeliatin gue kayak gue mesin yang udah dimasukkin koin dan nunggu muncratin kata2 dalam setik ini juga.

"hmmm gak deh mbak, kayaknya kurang kena"

"ga papa bilang aja, coba gimana gimana"

GIMANA GIMANA. kenapa sih kalo ngomong gimana selalu dua kali?
ya gimana, baca artikelnya aja gue nggak pernah karena artikel2 kayak gini enggak pernah dia kasih gue dulu seperti artikel2 lainnya. Gue udah mulai bisa baca polanya, udah berapa kali sejak dia naik jadi pemred dia punya "artikel2 spesial" yang nggak dilewatin ke gue, karena kalo lewat gue dulu, gue pasti akan komentar sejujurnya betapa basinya tulisan semua teman2nya itu, yang bukan diedit tapi lebih tepatnya di rewrite. Sementara dia perlu baik2in orang2 ini untuk sesuatu.


Gue nggak tau yang ini buat apa. Yang jelas ketika dia buat profil tentang si DC, yang gue nggak ngerti apa news valuenya, secara dia nyaris nggak pernah berkarya lagi setelah hampir 5 tahun, paling nongol di infotainment gara2 pacaran sama artis, gue tau besoknya dia dapet voucher sejuta dari butiknya yang di kemang itu. butiknya yang ngejual baju rancangan anak2 sekolah desain juga...

lagian kenapa sih dia itu kalo kayak gini2 nggak mikir dulu ? artikelnya itu Steve, tentang Tunisia. Dan lo tau apa judulnya? lo tau apa judulnya?

Lo tau apa judulnya?????

judulnya adalah............


"Tunisia Indah"


text by: model kerempeng yang sekarang udah gendut dan pengen jadi penulis

Kamis, 30 April 2009

The heart inside the heart: Susahnya membaca buku ini


hey steve,

tadi gue dateng ke acara peluncuran buku. tadinya, dari judulnya aja "the heart inside the heart" gue udah malas dateng. tapi si bos bilang "lucu kok, orang ini udah pernah bikin buku. ya buku kayak gitu deh, sehari juga selesai bacanya. kita-kita yang umur 35-40an sih saya rasa seneng bacanya." hmmmm... walaupun gue 29 tahun, gue iyain aja dan berangkatlah ke gramedia di grand indonesia.

nyampe disana suasana kelihatan seperti acara-acara pesta sosialita. perempuan2 berambut dicat (tentu umumnya coklat pirang2 gitu), panjang dan tertata hasil panggangan brutal hair dyer salon, senyum tidak terlalu lepas karena pipinya kelihatan seperti ditanam bakpao yang terlalu lama dipanasin di microwave.

terlepas dari mas2 mc bersepatu lancip yang gengges banget, talkshownya cukup menarik orang untuk tetap duduk di tempatnya. menurut gue sebagian besar itu karena ada samuel mulia yang diundang sebagai pembicara. seperti biasa sam menjadi dirinya, bicara jujur tentang seks, perselingkuhan, pernikahan, yang blak blakan ketika dia ngomong "blow job",penonton berteriak sunyi lewat matanya. penulisnya sendiri.... hmmm gimana ya, yang gue inget dari omongan dia adalah "sayur asem, sayur asem, sayur asem lagi... kan bosen juga" atau kalimat2 seperti itulah, yang maksudnya menggambarkan tentang pernikahan.

di buku ini, seperti yang ditulis di covernya, "apa yang perlu diketahui wanita sebelum menikah, selingkuh, atau bercerai", dia kasih nasehat2nya dari pengalamannya yang udah kawin 10 tahun dan katanya, teman-temannya. Isinya? ya ampun. gue bahkan berpikir buku ini gak layak direview sama sekali.


isinya antara lain (gue nggak sanggup baca sampai habis):
1. pria bisa jadi OVERWHELM kalau tiba-tiba melihat dan/atau mendengar suara atau tuntutan kita dari pagi, siang, hingga malam (OH YA??? APALAGI YANG BARU, MBAK?)

2. Jangan bawel, karena pria tidak suka disuruh begini dan begitu. (OH YA AMPUN, MASA SIH?)

3. HATI HATI dengan apa yang kita ucapkan kepada suami dan anak-anak kita. (THANK YOU, WHAT A DIVINE REVELATION)

lalu berkali-kali dia menyebutkan buku pertamanya."Di Queen of heart saya menyebutkan... bla bla bla atau blu blu blu". Look, besides nobody read your first book (i didn't even know it exists) this is a terrible way if you're trying to tell people to buy your fist book. this one is pretty much a mess.

lalu ada cara-cara menulisnya lagi yang ganggu seperti
"....tapi saya seyakin-yakinnya - pokoknya yakiiiiiiiiiiiin sekali..."
atau "But Whoooooooo??". yang paling menyedihkan adalah dia sering sekali menertawakan sendiri leluconnya. tulisan hahaha ada dimana-mana. ya ampun, anak magang di majalah gue bahkan bisa menulis lebih baik dari ini. kalau buku ini bisa diterbitin gramedia (yang mengecewakan gue, karena gramedia nih lama-lama kok kayak gini sih?), gue akan menyemangati anak magang gue untuk buat buku.

resepnya:
1. ketika mennyampaikan argumen lo, lakukan penekanan secara harafiah, yaitu menekan tuts di kibor yang agak lama pada kata intinya, semisal: I'm sure kalau it's trueeeeeeeee
atau sesekali bisa pakai huruf kapital. ada contohnya di buku ini:"...ketika merencanakan pesta pernikahan, sebisanya RELAX and GO WITH THE FLOW."
2. kumpulin kata-kata bijak dari orang-orang terkenal dan selipkan di depan tulisan dan di akhir tulisan di tiap bab.
dari cara dia menulis yang seperempat inggris- setengah indonesia gue udah terganggu banget. masalahnya model menulis kayak gini ada dari depan sampai belakang. seperti

" All in all, asal nikah karena cinta, bla bla bla" selanjutnya ada kayak 30 kata lagi dalam bahasa indonesia.

atau ..

"Do not become one of those women who become half a person in their marriage, hanya untuk menyesal di kemudian hari!"

atau ..

"The wedding cake is, sampai saat ini, the best chocolate cake that i ever tasted."
apaan sih ini? kayaknya nunjukkin banget ini orang nggak punya kemampuan berbahasa inggris dan berbahasa indonesia yang benar. jadi mual gue bacanya.

all in all, steve, i think the book is, sampai saat ini, the worst book i've ever tried to read. Maaf, mungkin lebih tepatnya, the book is, sampai saat ini, the woooooooorst book i've ever TRIED to read.


kalau ada yang mau, gue akan dengan sangat senang hati mengirimkan buku ini yang gue dapat karena jatah media, ke elo, gratis, dimanapun di indonesia.

masihkah kamu mencintaiku?


Hi A,

semalem gue nonton TV dan isinya seperti biasa, smuanya kreatif banget dan isinya ga ada yg laen selain sinetron dan reality show...trus pas lagi pindah2 channel, ada salah satu yang nayangin reality show (catat: gue nonton jam 10 malam! Masih ada ya yg nonton reality show jam segitu?) tapi buktinya gue nonton..darn!

Judulnya: masihkah kamu mencintaiku? Isinya tentang pasangan suami istri yang udah mo cerai trus diusahain balikan lagi gitu.. nah biar lebih rame lagi, orangtua dua2nya ikut diundang, plus psikolog...

yang semalem ini bertengkar mulu kerjaannya! Sampe2 keliatan banget acaranya dibuat-buat.

Yang lebih keren lagi nih, host nya helmi yahya – recent divorcee... mending dia duluan yg jadi bintang tamu nya yah?